Minggu, 19 Mei 2013
Sabtu, 20 April 2013
Sekelumit Sabtu
Aku sedang berada di sebuah kedai kopi Belanda di kawasan Bendungan Hilir. Ditemani segelas kopi Bon Bon dan potato fries dengan rasa yang unik. Samar mengalun lagu Phoenix - Long Distance Call di seluruh penjuru ruang. Jemariku sibuk mengetik. Kadang menulis dan mengguratkan sedikit sketsa untuk kebutuhan posting di blog sebelah. Keberadaanku disini diakibatkan oleh habisnya kuota modem ditengah kebutuhanku menyusun rumusan proposan skripsiku. Nah, ini.
Aku satu dari tiga mahasiswa yang belum mengajukan proposal skripsi. Aku tak ingin terlalu terburu-buru. Bukankah seharusnya memang begitu? Ini bukan hal sepele menurutku. Aku perlu merumuskan apa yang benar-benar kumaui sebelum masuk ke metodologi. Dan disinilah aku. Membaca beragam artikel. Mencari masalah untuk diteliti. Biasanya ketika suntuk aku akan menggambar. Tapi nampaknya mood menggambarku sedang kacau. Apa-apa yang kugambar nampak seperti kurcaci peyot dan garis-garis nampak seperti tali tua nyaris putus. Jujur pikiranku sedikit kurang memang sedang kacau. Satu setengah jam lalu aku baru saja melepas pulang kakakku yang berkunjung ke Jakarta. Aku mengantarnya ke bandara dan memastikan dia masuk pintu terminal 1B yang dijaga oleh mas-mas muda berseragam abu-abu dengan topinya yang khas. Perbincanganku dengan dia tidak jauh-jauh. Seputar keluarga, seputar kisahku dan racauanku yang dia timpali dengan -kadang- bijak. Lalu aku mengatre taksi. Mengubah destinasiku tiga kali. dan lalu berganti armada karena taksi yg kumau terlalu lama datangnya. Membuat petugas taksi bandara itu cemberut. Kusampaikan maaf dalam hati yang jelas-jelas tak akan sampai juga padanya. Tapi biar. Lalu aku duduk di taksi dengan tenang. Terlalu tenang dan lalu aku tertidur. Tiba-tiba taksi sudah keluar tol dan masuk Pejompongan. Pak supir taksi membangunkan dan bertanya dimana persisnya aku turun. Dan disinilah aku.
Sudah berapa kali kubilang tadi? Ah abaikan. Ini bukan postingan. Lebih tepat disebut racauan. Kopiku baru kuminum sedikit. kentang masih sisa beberapa dan sudah tidak lagi hangat. jariku sibuk mengetik. Cepat. Secepat laju pikiranku. Cafe ini berangsur sepi. Anak-anak muda yang bergerombol didepanku sudah pergi. Begitu juga sepasang muda-mudi di ujung sana. Tak apa, semakin sepi semakin bagus. Aku suka sepi, karena toh pikiranku sudah terlalu berisik. Oiya, skripsi. Aku disini demi menyusun proposal skripsi. Aku disini mencari masalah dan membunuh Sabtu.
Lalu ada yg berkedip-kedip tak sabaran di taskbar. Semburat senyum samar terpancar dipenghujung senja.
Selamat Sabtu, siapapun kamu. Semoga senyum selalu menghias muka.
Aku satu dari tiga mahasiswa yang belum mengajukan proposal skripsi. Aku tak ingin terlalu terburu-buru. Bukankah seharusnya memang begitu? Ini bukan hal sepele menurutku. Aku perlu merumuskan apa yang benar-benar kumaui sebelum masuk ke metodologi. Dan disinilah aku. Membaca beragam artikel. Mencari masalah untuk diteliti. Biasanya ketika suntuk aku akan menggambar. Tapi nampaknya mood menggambarku sedang kacau. Apa-apa yang kugambar nampak seperti kurcaci peyot dan garis-garis nampak seperti tali tua nyaris putus. Jujur pikiranku sedikit kurang memang sedang kacau. Satu setengah jam lalu aku baru saja melepas pulang kakakku yang berkunjung ke Jakarta. Aku mengantarnya ke bandara dan memastikan dia masuk pintu terminal 1B yang dijaga oleh mas-mas muda berseragam abu-abu dengan topinya yang khas. Perbincanganku dengan dia tidak jauh-jauh. Seputar keluarga, seputar kisahku dan racauanku yang dia timpali dengan -kadang- bijak. Lalu aku mengatre taksi. Mengubah destinasiku tiga kali. dan lalu berganti armada karena taksi yg kumau terlalu lama datangnya. Membuat petugas taksi bandara itu cemberut. Kusampaikan maaf dalam hati yang jelas-jelas tak akan sampai juga padanya. Tapi biar. Lalu aku duduk di taksi dengan tenang. Terlalu tenang dan lalu aku tertidur. Tiba-tiba taksi sudah keluar tol dan masuk Pejompongan. Pak supir taksi membangunkan dan bertanya dimana persisnya aku turun. Dan disinilah aku.
Sudah berapa kali kubilang tadi? Ah abaikan. Ini bukan postingan. Lebih tepat disebut racauan. Kopiku baru kuminum sedikit. kentang masih sisa beberapa dan sudah tidak lagi hangat. jariku sibuk mengetik. Cepat. Secepat laju pikiranku. Cafe ini berangsur sepi. Anak-anak muda yang bergerombol didepanku sudah pergi. Begitu juga sepasang muda-mudi di ujung sana. Tak apa, semakin sepi semakin bagus. Aku suka sepi, karena toh pikiranku sudah terlalu berisik. Oiya, skripsi. Aku disini demi menyusun proposal skripsi. Aku disini mencari masalah dan membunuh Sabtu.
Lalu ada yg berkedip-kedip tak sabaran di taskbar. Semburat senyum samar terpancar dipenghujung senja.
Selamat Sabtu, siapapun kamu. Semoga senyum selalu menghias muka.
Minggu, 16 Desember 2012
Responsibility
"Be careful with what you are wishing."
Itu kalimat terakhir yang dia katakan sebelum akhirnya kami deal yang ditandai dengan menjabat tangan satu sama lain. Siapa dia? Dia atasan saya sekarang. Iya, itu kalimat akhir saat wawancara. Sekarang, saya tahu kenapa dia menyampaikan itu.
Sekarang saya bekerja di sebuah advertising agency dengan rutinitas yang yaa.. kalian tahulah advertising itu bagaimana dan seperti apa ritme bekerjanya. Deadline yang ketat, ide yang dituntut untuk terus mengalir, informasi yang harus selalu segar, dada yang harus selalu membusung, pikiran yang harus selalu berlari, dan jiwa yang harus selalu siaga untuk menerima. Saya menyesal? Tidak sama sekali. Anggaplah saya sedang berlatih kung fu, dari seorang master yang sudah sering menjuarai kompetisi. Setiap cambukan bukan membuatmu lemah tapi justru makin tegak berdiri. Belajar, dan berlatih. Terus menerus.
Setiap keputusan ada konsekuensi. Inilah yang saya sadari betul. Dari awal saya tahu konsekuensinya. Tanggung jawab saja dengan keputusan yang saya ambil, in stead of menyalahkan keadaan dan keterlanjuran.
Damn, I love my bloody hell job and I cannot wait to see Monday!
Itu kalimat terakhir yang dia katakan sebelum akhirnya kami deal yang ditandai dengan menjabat tangan satu sama lain. Siapa dia? Dia atasan saya sekarang. Iya, itu kalimat akhir saat wawancara. Sekarang, saya tahu kenapa dia menyampaikan itu.
Sekarang saya bekerja di sebuah advertising agency dengan rutinitas yang yaa.. kalian tahulah advertising itu bagaimana dan seperti apa ritme bekerjanya. Deadline yang ketat, ide yang dituntut untuk terus mengalir, informasi yang harus selalu segar, dada yang harus selalu membusung, pikiran yang harus selalu berlari, dan jiwa yang harus selalu siaga untuk menerima. Saya menyesal? Tidak sama sekali. Anggaplah saya sedang berlatih kung fu, dari seorang master yang sudah sering menjuarai kompetisi. Setiap cambukan bukan membuatmu lemah tapi justru makin tegak berdiri. Belajar, dan berlatih. Terus menerus.
Setiap keputusan ada konsekuensi. Inilah yang saya sadari betul. Dari awal saya tahu konsekuensinya. Tanggung jawab saja dengan keputusan yang saya ambil, in stead of menyalahkan keadaan dan keterlanjuran.
Damn, I love my bloody hell job and I cannot wait to see Monday!
Senin, 03 Desember 2012
Standar kenormalan
Pernahkah terpikir, apa sih standar normal itu?
Hari Minggu kemarin saya main ke Monas dengan niat membaca buku bareng. Saya melihat banyak keluarga 'utuh' dengan atribut piknik bertebaran disana sini, ada juga pasangan yang berjalan saling bergandengan tangan, beberapa ada yg sedang jogging, dan sebagainya. Tiba-tiba saya ingat seorang teman lama yang memiliki keterbatasan fisik dan kurang mampu. Satu pernyataan lugu yang saya ingat dari dia adalah:
Kalau jadi orang hebat terlalu susah, aku pengen setidaknya bisa normal seperti orang lain.
ces.
Saya peluk dia setelah dia menyampaikan itu. Tanpa mengatakan hal muluk seperti, "Aku tahu". Karena aku tidak tahu rasanya menjadi dia. Tapi kurang lebih saya merasakan hal yang sama dengan kata 'normal'. Yang kata orang-orang itu adalah level untuk minimal kita bisa diterima di suatu kalangan. Sedangkan tolak ukur normal itu ambigu. Normal bagi siapa?
Misal teman saya yang tuna rungu itu, dia dianggap tidak normal karena tidak bisa mendengar apa yang kita dengar. Padahal menurut saya dia pintar. Lebih pintar dari yang 'normal'. Dia bisa membaca gerak bibir dan mencernanya dengan cepat sehingga bisa berkomunikasi. Itu hebat. Tapi toh orang tetap melontarkan kalimat kasar seperti, "ah, kamu nggak bisa denger sih."
Ketabahan dia pun lebih dari orang 'normal'. Saya saja denger dia diejek rasanya pengen balas. Tapi dia justru balik bilang, "Ah aku nggak denger ini.." Ini sungguh menggelitik. Lalu dia memberi tahu saya pandangan dia tentang normal versi dia.
Dia kurang lebih menyampaikan bahwa, tuna rungu ini justru hal normal buat dia. Dulu sekali, dia pernah pakai alat bantu dengar. Kata dia itu menyiksa. Jauh lebih tenang buatnya ketika dia melepas alat bantu dengar itu. Dia sama sekali nggak terbebani dengan kondisinya. Itu membuat saya banyak berfikir.
Itu baru normal dari sisi fisik. Belum lagi definisi normal dari sisi behaviour, status masyarakat, dan ah banyak sekali hal yang perlu diluruskan tanpa bertumpu pada 'normal'.
Aku rasa juga tulisan ini sedikit kacau, karena pikiran saya sedang tidak pada normalnya.
Rabu, 28 November 2012
A Taste of Europe On a Screen
Festival film Eropa atau Europe on Screen tahun ini sangat menarik. Tahun kemarin tidak sempat menonton, tapi tahun ini akhirnya ada juga kesempatan untuk menyaksikan film-film hebat yg meraih banyak award. Keren? Pastinya. Apalagi acara ini cuman hadir sekali setahun. Acaranya sendiri dimulai dari tanggal 25 November sampai 1 Desember 2012. Jadi masih ada waktu sampai akhir pekan ini. xD
Saya memilih nonton di Goethe Institut, Menteng. Karena ya emang sering kesana dan hafal aksesnya. Film yg saya tonton hari itu ada dua, Salmon Fishing In The Yemen dilanjut dengan Declaration of War. Film yang dibintangi Ewan McGregor dan Emily Blunt ini mengusung cerita yang unik dengan beberapa unsur komedi. Film ini juga diangkat berdasarkan novel. Karena nggak mau spoiler, jadi cuma bisa bilang kalau ini film beneran baguss. Double s.
Film kedua Declaration of War. Film produksi Perancis ini diangkat dari kisah nyata, katanya. Untung ada subtitle english. Jadi nggak terlalu roaming. Inti ceritanya bagus sebenernya. Ada unsur satir disitu, karena memang sarat pesan moral. Walau di pertengahan film agak dragging. Keberadaan unsur musikal, membuat film ini justru nampak sedikit.. aneh. Tapi overall bagus. Aktornya ganteng. #eh :p
Oiya, festival film Eropa ini gratis lho. Masih ada waktu sampai tanggal 1 Desember nanti. Untuk daftar film, venue, dan jadwal bisa dilihat aja di website europeonscreen.org
Mari menonton film yang 'beda'.
Senin, 03 September 2012
a music a journey
Kehabisan ide soal judul, jadi sekalian dibikin berantai sama postingan sebelumnya aja. :D
Setuju dong kalau perjalanan tanpa dengerin musik itu nggak afdhol. Pemutar musik, dan earphone bisa jadi hot item di perjalanan. Jangan sampe baterai lupa di charge, yg bikin kita bete di jalan. Apalagi bagi yg sering naik bus AKAP dan bukan penyuka dangdut. Yaa.. you know what I mean lah.. :p
Basically lagu apa aja cocok sih didengerin di perjalanan. Mau lagu jedag jedug kek, pop, klasik, apa aja bebas. Tapi masing-masing pasti punya lagu spesial yang menimbulkan kesan tertentu. Bisa jadi beda kota, beda lagu. Beda perjalanan, beda feeling. Apalagi beda partner travelling.. :-"
Makanya, beberapa orang suka bikin mixtape waktu traveling ataupun pasca travelling untuk menyimpan feeling mereka terhadap perjalanan tertentu. Ah udah setuju ajalah biar cepet. Yuk jreng..
1. Cayman Island
Lagu ini cocok banget didengerin di kereta, apalagi kalau duduk di pinggir jendela sambil ngeliat hamparan sawah dan lansekap ijo2 di daerah. Efeknya semacam adem, bikin ngerasa kalau perjalanan lo itu cool abis, mamen. Replay terus aja kalau mau 'stay cool'. *pasang kacamata*
2. Go outside
Lagu ini cocok banget diputer pas memulai perjalanan. Naik mobil bareng2 temen rame-rame. Kaca jendela dibuka dan angin menerbang-nerbangkan helaian rambut yg tergerai. Tapi jangan di Jakarta. Ekspektasinya keren ya ciyn, padahal bisa jadi rambut kusut pasca kena angin. :p Tapi feel memulai perjalanannya dapet banget. xD
3. Ocean drive
Lagu ini cocok didenger di pesawat. Apalagi kalau flight pagi dan duduk di pinggir jendela. Sambil sruput kopi dan gigit roti, senyum ke awan juga nggak ada salahnya. :)
4. Lollipop
Nah kalau lagu ini cocoknya didenger di perjalanan dadakan. Tanpa planning, sedikit gila memang tapi dijamin seru. Such a random getaway. Coba deh, lain kali.
5. Viva la Vida
Karena saya penyuka Coldplay maka pada dasarnya semua lagu Coldplay bisa jadi teman yg manis di perjalanan. Tapi saya pilih Viva la Vida karena feelingnya dapet banget kalau didenger di bus saat keliling kota. Psst, saya sering dengerin ini di Trans Jakarta. Terutama di TJ koridor 8 apalagi kalau dapet seat paling belakang. :D
6. New York City
Lagu ini cocok didenger kalau perjalanan dilakukan di bulan Desember. Apalagi pas liburan menjelang tahun baru. Dengerin aja biar tahu kenapa. :D
7. Someday
Lagu ini pas banget didengerin di bus saat perjalan tugas ke luar kota. Feelingnya berasa banget. Dari mulai musik sampai lirik. Cocoknya didenger waktu masih pagi sambil lihat geliat kehidupan masyarakat. #hauwah Tapi seriusan, lagu ini cocok didenger sambil melihat aktivitas orang-orang diluar yg bikin kita sedikit merenung.
8. Nowhere Warm
Umm.. satu dari beberapa lagu galau yg cocok didenger di perjalanan. Pas banget dinikmati kalau perjalanan darat dan malam hari. Entah naik bus, mobil atau kereta. Kalau sudah malam dan melek di perjalanan, selain muter lagu2 setipe ini, biasanya enak kalau muter lagu klasik. Selera sih. :D
Nah, itu cuma sedikit dari sekian banyak lagu yg enak didenger di perjalanan. Bakal lebih asik kalau bikin mixtape. Kalau kamu di jalan suka denger lagu apa? ;)
Setuju dong kalau perjalanan tanpa dengerin musik itu nggak afdhol. Pemutar musik, dan earphone bisa jadi hot item di perjalanan. Jangan sampe baterai lupa di charge, yg bikin kita bete di jalan. Apalagi bagi yg sering naik bus AKAP dan bukan penyuka dangdut. Yaa.. you know what I mean lah.. :p
Basically lagu apa aja cocok sih didengerin di perjalanan. Mau lagu jedag jedug kek, pop, klasik, apa aja bebas. Tapi masing-masing pasti punya lagu spesial yang menimbulkan kesan tertentu. Bisa jadi beda kota, beda lagu. Beda perjalanan, beda feeling. Apalagi beda partner travelling.. :-"
Makanya, beberapa orang suka bikin mixtape waktu traveling ataupun pasca travelling untuk menyimpan feeling mereka terhadap perjalanan tertentu. Ah udah setuju ajalah biar cepet. Yuk jreng..
1. Cayman Island
Lagu ini cocok banget didengerin di kereta, apalagi kalau duduk di pinggir jendela sambil ngeliat hamparan sawah dan lansekap ijo2 di daerah. Efeknya semacam adem, bikin ngerasa kalau perjalanan lo itu cool abis, mamen. Replay terus aja kalau mau 'stay cool'. *pasang kacamata*
2. Go outside
Lagu ini cocok banget diputer pas memulai perjalanan. Naik mobil bareng2 temen rame-rame. Kaca jendela dibuka dan angin menerbang-nerbangkan helaian rambut yg tergerai. Tapi jangan di Jakarta. Ekspektasinya keren ya ciyn, padahal bisa jadi rambut kusut pasca kena angin. :p Tapi feel memulai perjalanannya dapet banget. xD
3. Ocean drive
4. Lollipop
Nah kalau lagu ini cocoknya didenger di perjalanan dadakan. Tanpa planning, sedikit gila memang tapi dijamin seru. Such a random getaway. Coba deh, lain kali.
5. Viva la Vida
Karena saya penyuka Coldplay maka pada dasarnya semua lagu Coldplay bisa jadi teman yg manis di perjalanan. Tapi saya pilih Viva la Vida karena feelingnya dapet banget kalau didenger di bus saat keliling kota. Psst, saya sering dengerin ini di Trans Jakarta. Terutama di TJ koridor 8 apalagi kalau dapet seat paling belakang. :D
6. New York City
Lagu ini cocok didenger kalau perjalanan dilakukan di bulan Desember. Apalagi pas liburan menjelang tahun baru. Dengerin aja biar tahu kenapa. :D
7. Someday
Lagu ini pas banget didengerin di bus saat perjalan tugas ke luar kota. Feelingnya berasa banget. Dari mulai musik sampai lirik. Cocoknya didenger waktu masih pagi sambil lihat geliat kehidupan masyarakat. #hauwah Tapi seriusan, lagu ini cocok didenger sambil melihat aktivitas orang-orang diluar yg bikin kita sedikit merenung.
8. Nowhere Warm
Umm.. satu dari beberapa lagu galau yg cocok didenger di perjalanan. Pas banget dinikmati kalau perjalanan darat dan malam hari. Entah naik bus, mobil atau kereta. Kalau sudah malam dan melek di perjalanan, selain muter lagu2 setipe ini, biasanya enak kalau muter lagu klasik. Selera sih. :D
Nah, itu cuma sedikit dari sekian banyak lagu yg enak didenger di perjalanan. Bakal lebih asik kalau bikin mixtape. Kalau kamu di jalan suka denger lagu apa? ;)
Minggu, 02 September 2012
a book a journey
Sebenernya draft postingan ini dibuat sudah cukup lama. Tapi belum beres. Tulisan ini ikut2an blogger lain yg mengulas hal yang sama, diantaranya blog Matriphe dan blog Arya. Tapi waktu itu buanyak yg ikut menulis soal serupa, jadi saya tunda dulu saja. #Alesan
Saya termasuk orang yg ringkes kalau jalan-jalan. Paling males bawa banyak tentengan. Kalau bisa semuanya masuk kedalam ransel. Tak lupa baterai ponsel di charge penuh, dan earphone pantang ketinggalan supaya nggak mati gaya di jalan. Satu hal lagi yg nggak boleh kelupaan adalah buku. Semua itu penunjang perjalanan. Musik yg bagus bisa memperkuat feel perjalanan, begitupun buku. Tapi nggak semua buku cocok dibawa bepergian dan menamani jalan-jalan. Menurut saya pribadi, buku yg cocok dibawa jalan-jalan itu yg simple. Simple bentuk bukunya, simple isinya, simple harganya.
Simple bukunya. Nggak tebel halamannya, jadi nggak ribet bawanya. Jangan sampe buku yg dibawa itu berat untuk ditenteng. Bukannya menghibur, malah ngerepotin.
Simple isinya. Bukan yg berat bikin mikir atau membutuhkan konsentrasi tinggi. Yang lucu menghibur lebih seru. Eh, tapi ini relatif sih. Menurut saya cerita kriminal itu cukup berat sedangkan menurut orang lain belum tentu. :D
Simple harganya. Karena dibawa jalan-jalan ya, jadi menurut saya buku yg dibawa bukanlah buku yg berharga mahal dan collectable. Bukan berati buku jelek atau murah. Tapi buku yg kalau toh ilang nggak bakal ditangisin. Lagi-lagi ini relatif. Menurut saya mahal, siapa tahu menurut yg lain murah. :D
Saya termasuk orang yg ringkes kalau jalan-jalan. Paling males bawa banyak tentengan. Kalau bisa semuanya masuk kedalam ransel. Tak lupa baterai ponsel di charge penuh, dan earphone pantang ketinggalan supaya nggak mati gaya di jalan. Satu hal lagi yg nggak boleh kelupaan adalah buku. Semua itu penunjang perjalanan. Musik yg bagus bisa memperkuat feel perjalanan, begitupun buku. Tapi nggak semua buku cocok dibawa bepergian dan menamani jalan-jalan. Menurut saya pribadi, buku yg cocok dibawa jalan-jalan itu yg simple. Simple bentuk bukunya, simple isinya, simple harganya.
Simple bukunya. Nggak tebel halamannya, jadi nggak ribet bawanya. Jangan sampe buku yg dibawa itu berat untuk ditenteng. Bukannya menghibur, malah ngerepotin.
Simple isinya. Bukan yg berat bikin mikir atau membutuhkan konsentrasi tinggi. Yang lucu menghibur lebih seru. Eh, tapi ini relatif sih. Menurut saya cerita kriminal itu cukup berat sedangkan menurut orang lain belum tentu. :D
Simple harganya. Karena dibawa jalan-jalan ya, jadi menurut saya buku yg dibawa bukanlah buku yg berharga mahal dan collectable. Bukan berati buku jelek atau murah. Tapi buku yg kalau toh ilang nggak bakal ditangisin. Lagi-lagi ini relatif. Menurut saya mahal, siapa tahu menurut yg lain murah. :D
Kamis, 30 Agustus 2012
Kapan Nikah?
Ya ampun apabanget deh ini blog, udah lumutan sejak terakhir posting kapan itu.. ah ya ampun Mei 2012. Empat bulan, ya Allah. *sujud taubat*
Agak lewat sih momen puncak pertanyaan 'kapan nikah' itu. Secara lebaran udah lewat hampir 2 minggu. Masih bulan syawal sih. Tapi ya nggak papa, toh kepikir share soal ini baru sekarang. :p
Pertanyaan 'Kapan Nikah?' itu semacam jadi momok, sesuatu yg di-malesbanget-in sama semua lajang terutama single. Dulu mungkin banyak yang nggak sadar kalau kalimat ini mengganggu, cuma angin lalu. Tapi semua bahas di linimasa tentang betapa mengganggunya pertanyaan ini yang justru membuat pertanyaan ini menjadi setan gentayangan yang bakal muncul tiba-tiba di acara reuni atau kumpul keluarga. Pertanyaan yang tadinya cuman basa-basi tapi busuk, bagi yang merasa. Bagi yang merasa ya, sejauh ini saya belum merasa terganggu sama pertanyaan itu.
*lalu tutup tab massal*
Iya, saya masih bisa ngelak kalau dikasih pertanyaan itu karena kakak saya yang ada persis di atas saya masih belum menikah. Jadi saya bisa jadikan dia sebagai tameng. Kok kedengerannya jahat ya. Ah dikit doang nggak papa lah. :)) Jadi kalau ditanya kapan nikah..
Agak lewat sih momen puncak pertanyaan 'kapan nikah' itu. Secara lebaran udah lewat hampir 2 minggu. Masih bulan syawal sih. Tapi ya nggak papa, toh kepikir share soal ini baru sekarang. :p
Pertanyaan 'Kapan Nikah?' itu semacam jadi momok, sesuatu yg di-malesbanget-in sama semua lajang terutama single. Dulu mungkin banyak yang nggak sadar kalau kalimat ini mengganggu, cuma angin lalu. Tapi semua bahas di linimasa tentang betapa mengganggunya pertanyaan ini yang justru membuat pertanyaan ini menjadi setan gentayangan yang bakal muncul tiba-tiba di acara reuni atau kumpul keluarga. Pertanyaan yang tadinya cuman basa-basi tapi busuk, bagi yang merasa. Bagi yang merasa ya, sejauh ini saya belum merasa terganggu sama pertanyaan itu.
*lalu tutup tab massal*
Iya, saya masih bisa ngelak kalau dikasih pertanyaan itu karena kakak saya yang ada persis di atas saya masih belum menikah. Jadi saya bisa jadikan dia sebagai tameng. Kok kedengerannya jahat ya. Ah dikit doang nggak papa lah. :)) Jadi kalau ditanya kapan nikah..
Langganan:
Postingan (Atom)



