Sabtu, 20 April 2013

Sekelumit Sabtu

Aku sedang berada di sebuah kedai kopi Belanda di kawasan Bendungan Hilir. Ditemani segelas kopi Bon Bon dan potato fries dengan rasa yang unik. Samar mengalun lagu Phoenix - Long Distance Call di seluruh penjuru ruang. Jemariku sibuk mengetik. Kadang menulis dan mengguratkan sedikit sketsa untuk kebutuhan posting di blog sebelah. Keberadaanku disini diakibatkan oleh habisnya kuota modem ditengah kebutuhanku menyusun rumusan proposan skripsiku. Nah, ini.


Aku satu dari tiga mahasiswa yang belum mengajukan proposal skripsi. Aku tak ingin terlalu terburu-buru. Bukankah seharusnya memang begitu? Ini bukan hal sepele menurutku. Aku perlu merumuskan apa yang benar-benar kumaui sebelum masuk ke metodologi. Dan disinilah aku. Membaca beragam artikel. Mencari masalah untuk diteliti. Biasanya ketika suntuk aku akan menggambar. Tapi nampaknya mood menggambarku sedang kacau. Apa-apa yang kugambar nampak seperti kurcaci peyot dan garis-garis nampak seperti tali tua  nyaris putus. Jujur pikiranku sedikit kurang memang sedang kacau. Satu setengah jam lalu aku baru saja melepas pulang kakakku yang berkunjung ke Jakarta. Aku mengantarnya ke bandara dan memastikan dia masuk pintu terminal 1B yang dijaga oleh mas-mas muda berseragam abu-abu dengan topinya yang khas. Perbincanganku dengan dia tidak jauh-jauh. Seputar keluarga, seputar kisahku dan racauanku yang dia timpali dengan -kadang- bijak. Lalu aku mengatre taksi. Mengubah destinasiku tiga kali. dan lalu berganti armada karena taksi yg kumau terlalu lama datangnya. Membuat petugas taksi bandara itu cemberut. Kusampaikan maaf dalam hati yang jelas-jelas tak akan sampai juga padanya. Tapi biar. Lalu aku duduk di taksi dengan tenang. Terlalu tenang dan lalu aku tertidur. Tiba-tiba taksi sudah keluar tol dan masuk Pejompongan. Pak supir taksi membangunkan dan bertanya dimana persisnya aku turun. Dan disinilah aku.

Sudah berapa kali kubilang tadi? Ah abaikan. Ini bukan postingan. Lebih tepat disebut racauan. Kopiku baru kuminum sedikit. kentang masih sisa beberapa dan sudah tidak lagi hangat. jariku sibuk mengetik. Cepat. Secepat laju pikiranku. Cafe ini berangsur sepi. Anak-anak muda yang bergerombol didepanku sudah pergi. Begitu juga sepasang muda-mudi di ujung sana. Tak apa, semakin sepi semakin bagus. Aku suka sepi, karena toh pikiranku sudah terlalu berisik. Oiya, skripsi. Aku disini demi menyusun proposal skripsi. Aku disini mencari masalah dan membunuh Sabtu.

Lalu ada yg berkedip-kedip tak sabaran di taskbar. Semburat senyum samar terpancar dipenghujung senja.
Selamat Sabtu, siapapun kamu. Semoga senyum selalu menghias muka.

2 komentar:

  1. Ngomong2 kafe yang dimaksud itu dimana ya? *lospokus*
    Ekapan2 aku diajak nongkrong ke situ, donk XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok, le. Di Benhil, kalau dari pasar Benhil dia setelah Sevel. Sayang cuma satu lantai. Padahal seru. x))
      Yuk, kalau mau nongkrong kapan-kapan ku colek deh. x)

      Hapus

Katanya sih...